Cerita Si Kembar; Edisi #2

Kali ini kisah yang akan diangkat kala Si kembar memasuki Sekolah Dasar. Jangan tanyakan mereka sekolah TK atau PAUD. Sebab jaman segitu belum masuk ke pedesaan.

Kalau nanya sekolah sore atau sekolah agama, baru boleh. Untuk cerita ini nanti ada saatnya diceritakan. Pokoknya seru abis dan menantang. Terlebih abah yang mengajar galaknya gak ketulungan dan serem pula.

Kalau sudah marah apapun bisa terjadi dan itu di luar bayangan.
***
Sikembar masuk Sekolah Dasar Majalaya. Nama Majalaya diambil dari sebuah kampung, letak dimana sekolahan itu dibangun.

Jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Lumayanlah untuk mengobati penyakit diabetes, bagi yang memilikinya. Cukup melewati beberapa kampung saja. Kalau dihitung waktu/jam, mungkin sekitar dua puluh menitan.

Karena sekolah masih mengalami kekurangan kursi duduk untuk siswa, bapak berinisiatif membuatkan kursi khusus untuk mereka. Kursi itulah yang mereka pindah-pindah kalau musim kenaikan kelas tiba.

Bahkan ada kejaian unik, karena jumlah kursi terbatas dan para orang tua tidak tega jika anaknya tidak kebagian kursi, maka orang tua beradu cepat untuk datang ke sekolah. Kejadian unik ini terjadi kala memasuki penerimaan anak baru.

Maklumlah anak-anak masih kecil, jadi butuh pendampingan dari orang tuanya. Tak jarang kalau orang tuanya malah yang ribut berebut kursi. Kejadian yang paling lucu itu, ketika ada orang tua yang berangkat ke sekolah setelah subuh. Pagi-pagi buta, dengan menggunakan obor.

Kayaknya saat ini tradisi ini sudah hilang, sebab jumlah kursi sudah banyak, terlebih bantuan dari pemerintah juga selalu mengalir tiap tahunnya.

Ketika Si Kembar ini sekolah, ada kejadian yang cukup unik. Kelas 2 kalau tidak salah. Kala itu kan masih anak-anak, dan senangnya bercanda. Ada tetangga kampung yang usil, kebetulan kakak kelas juga dan senengnya menggangu.

Karena kesal, akhirnya anak itu dikejar dengan sekuat tenaga. Kesal karena tak dapat dikejar, sambil berlari, kaki kanan si kembar ditendangkan ke kaki anak tersebut. Akhirnya ia pun terjatuh, dan sontak menangis. Sebab ia jatuh tepat di jalan yang berbatu.

Anak itu menangis sejadi-jadinya. Sambil ia memegang kepalanya dengan kuat, setelah dilihat ternyata kepalanya mengeluarkan darah. Bocor, rupanya. Mungkin karena terbentur batu. Anak itu pun langsung dibawa ke ruang guru.

Dari situ Si kembar, merasa bersalah. Meskipun sebetulnya tidak salah, sebab anak itu yang duluan memulai. Kejadian ini terus diingat hingga saat ini, kadang kisah ini juga cukup unik. Sebab waktu itu masih junior, tetapi sudah bisa membuat senior segan. hehehehehehe


Previous
Next Post »
Thanks for your comment