Mitha; Gadis Jilbaber

Gadis cantik dan jilbaber itu Mitha namanya. Dara asal Tebing Tinggi, Medan, kini melanjutkan studinya di salah satu kampus yang terletak di kota kembang; Bandung. Gadis nan cantik jelita itu tidak hanya baik secara fisik, tetapi hatinya juga bersinar seperti sinar mentari di pagi hari yang memberikan kesejukan dan keindahan.

Balutan jilbab merah marun dan paduan busana muslimah yang menutup tubuhnya, aduhai alangkah sempurnanya gadis itu. Mata lelaki mana yang tak terpikat oleh kecantikan rupa dan kesolehan pribadinya. Ah, sungguh beruntung laki-laki yang dapat meminangnya kelak.

Dari balutan kain yang menutupi badannya, sudah terpancar aura keindahan sang pencipta. Aduhai begitu sempurna engaku tuhanku, yang telah menciptakan seorang gadis yang begitu indah rupa dan budinya. Hati ini terpikat dan dibuat jatuh tak berdaya.

Hamzah kenal Mitha sudah lama, itupun hanya kenal di jejaring sosial; facebook. Tapi, untuk bertemu langsung apalagi menyapanya, jangan harap kawan, ia tak akan berani.

Kata Hamzah, Mitha itu parasnya rupawan, anggun dan begitu sempurna, sedangkan aku tak pantas dan bukan siapa-siapa.

Dalam pemahaman Hamzah, ia begitu memegang teguh dan begitu memaknai betul akan maksud dari QS. An-Nuur [24] : 26, bahwa laki-laki yang baik itu bagi perempuan yang baik pula dan begitu juga sebaliknya. Pendapat lain juga berbeda-beda terkait penafsiran ayat tersebut.

Tiba-tiba Hamzah tersadar dari lamunannya. “Kok aku bsia ngelantur sampe kesana ya…" Mungkin Mita sudah punya calon, tentunya lebih ganteng dan lebih mapan dari aku. Jangan berharap lebih, dan jangan macam-macam. Ucap Hamzah dalam hatinya.

Tak apalah… aku ini kan hanya berusaha menuangkan rasa kekaguman terhadap seseorang yang begitu spesial dan membuat aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya. Aku sadar bahwa laki-laki itu memang terpana dan tertipu dengan kecantikan wanita, tetapi laki-laki juga tidak bodoh dalam menilai mana yang cantiknya dibuat-buat, dengan kecantikan yang terpancar dari dalam dirinya. Gumam Hamzah sambil berjalan meninggalkan tempat duduknya.

Cigodeg, 2006
Previous
Next Post »
Thanks for your comment