Hari ini Hamzah akan meninggalkan sekolah. Jas dan celana hitam menjadi pakaian kebanggaan mereka untuk terakhir kalinya. Dipadu dengan kemeja biru muda dan dasi garis-garis, tampak gagah dan berwibawanya mereka (wisudawan dan wisduawati yang sedang duduk di tenda khusus).
Tak banyak yang Hamzah ingat kala itu, hanya kenangan dan kisah pertama kali datang ke sekolah dan menjadi anak baru, masuknya pun terlambat dan sudah ketinggalan pelajaran juga, inilah kejadian yang berlari-larian di pikiran Hamzah, tepatnya empat tahun silam.
Kini waktu itu sudah tak terasa lagi, Waktu empat tahun ternyata tidak terasa. “Rasanya baru kemarin ya… kita masuk kesini…. ” ucap Hamzah ke salah satu teman terbaiknya, Fitri.
Hamzah membayangkan bagai mana dulu ketika pertama kali masuk. Masih jelas terbayang diingatannya anak-anak berbaris di depan kelas dan menirukan suara salah satu teman yang memimpinnya. Aneh, itulah kesan Hamzah kala pertama menyaksikannya.
“Quluu jamatan…." Teriak Anak itu di hadapan teman-temannya yang lain.
“Sirwaalun…" Kata itu keluar dari mulutnya. dan diikuti oleh semua teman-temannya yang berjumlah sembilan orang.
"Ma ma’nahu..?" Teriak anak itu kepada teman-temannya.
Teman-teman yang berjumlah sembilan orang saling bertatap satu sama lain mendengar pertanyaan dari ketua kelas tersebut.
“Ma’nahu… Celana Panjang." Ucap ketua kelas, sambil membuka catatan di buku kecilnya.
Inilah kejadian yang paling Hamzah ingat ketika pertama kali tiba di sekolah yang saat ini akan ia tinggalkan. Sekolah yang menyimpan sejuta kisah, cerita dan tempat berlatih untuk menempa diri.
Tak ada yang Hamzah dapatkan dari sekolah ini selain pendidikan dan ilmu berorganisasi. Adapun bahasa, tidak terlalu mahir dan cenderung pasif. Maklum, program pengenalan bahasa hanya dalam jangka waktu empat bulan saja.
Ditambah lagi peraktik dan penggunaanya tidak begitu aktif. Berbeda dengan mereka yang masuknya lebih lama berada di sekolah, penggunaan bahasa dan tata bahasa mereka lebih enak dan terasa renyah. Setidakanya kalau mau ngomong, mereka sudah tidak mikir lagi.
Hamzah dan kawan-kawannya akan diwisuda. Dengan proses dan penilaian yang panjang akhirnya Hamzah pun lulus dengan predikat Jayyid Jidan. Peringkat yang lumayan dan berada dibawah satu level di peringkat teratas yaitu Mumtaz.
Bagi Hamzah peringkat tidak terlalu penting, sebab bukan itu yang selama ini dicari. Proses penilaian Jayyid Jidan itu berdasarkan dari beberapa hasil ujian, prilaku baik ketika berada di sekolah (loyalitas) dan hafalan al-Qur’an.
Selesai acara wisuda, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Hamzah. Selain berat untuk meninggalkan sekolah ternyata Hamzah juga kepikiran sosok Heni. Ya, perempuan yang selama ini mewarnai hatinya. Ketika di panggung, mata Hamzah berkeliaran mencari keberadaan Heni.
“Apa jangan-jangan Heni pulang duluan?…" gumamnya dalam hati.
"Wah kalau sampai ini terjadi berarti ini salah saya kemarin sore. Sesal Hamzah yang sudah menyakiti hati Heni.
Bagaimana pun ini kesempatan terakhir, harus digunakan dengan baik dan meminta maaf. Itulah keinginan Hamzah kala itu. Sayang, hingga acara wisuda itu selesai, ternyata keberadaan Heni tak kunjung Hamzah temukan.
————————————————————————————————
Biasanya, untuk menjelaskan cerita sebelumnya menggunakan flash back. Begitu juga dengan cerita ini, di sini akan terjadi kisah Flash Back ketika Hamzah berada di dapur bersama Mak Aam.
————————————————————————————————
Sore itu setelah sholat ashar, Hamzah datang menemui Mak Aam. Hamzah meminta Mak Aam untuk memanggil Heni. Tak berapa lama Heni pun datang ke dapur untuk menghadap ke Mak Aam.
Akhirnya Mak Aam menyampaikan maksud dan tujuan kenapa memanggilnya. Heni pun langsung faham dan memberikan kode. Karena di dapur banyak anak-anak yang mengambil nasi atau sekedar meminta air panas, maka Hamzah dan Heni memutuskan untuk pindah ke ruang penyimpanan beras.
Di sana Hamzah melanjutkan obrolan dengan Heni. Kesempatan itu Hamzah gunakan untuk menanyakan kejelasan hubungan dan juga akan dibawa kemana hubungan yang sudah se-lama ini dibangun dan dijalin.
Waktu jawaban yang keluar dari Heni hanya terserah dan terserah. Karena jawaban itu menurut Hamzah memang bukan jawaban yang diharapkan, dan bukan sebuah jawaban yang dapat meyakinkan akan hubungannya tersebut, maka Hamzah memutuskan untuk menyudahinya.
Sebagai tanda terima kasih atas perjuangan dan kisah yang sudah dibangun, Hamzah memberikan sebuah kenang-kenangan yang untuk Heni. Semoga kenangan yang sudah diberikan akan terus diingat dan selalu ada, meski pun kini Heni sudah berumah tangga dengan suami idamannya.
Terima kasih Hen, maaf dulu gak sempat minta maaf...
Ini ungkapan Hamzah yang selama ini belum sempat kesampaian. Dari pertemuan sore di dapur Mak Aam, hingga saat ini, Hamzah tidak pernah lagi bertemu dengan Heni.
Semoga bahagia selalu…. dan Selamat Menjadi Ibu….
Cigodeg, 2006
Selesai
***
———————————————————————————-
Heni Purnama Sari, kini sudah menikah dengan laki-laki pilihannya. Ia adalah seorang karyawan di salah satu bank. Dan informasi yang terbaru, Heni sudah melahirkan anak pertamanya. Jenis kelamin anak pertamanya perempuan.
Selamat menjadi orang tua, dan kini perannya sudah berubah. Menjadi seorang ibu dan pendidik bagi sang buah hati. Selamat berbahagia Hen…
———————————————————————————-

ConversionConversion EmoticonEmoticon Off Topic